Thursday, February 26, 2009

Glaukoma

conectique.com

Di Indonesia, glaukoma menempati posisi nomor dua setelah katarak sebagai penyebab kebutaan. Tidak hanya mereka yang berusia 40 tahun keatas, glaukoma juga dapat menyerang bayi  dan orang berusia muda. 

Glaukoma adalah kondisi gangguan mata, yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata (kornea), sehingga menyebabkan kerusakan syaraf optik, yang memicu penurunan daya penglihatan

Penyebab

Glaukoma terjadi karena sudut bilik mata bagian depan sebagai saluran keluarnya cairan bola mata tersumbat. Akibatnya cairan tidak bisa keluar dan tekanan dalam bola mata (TIO) meningkat sehingga merusak serabut syaraf mata. Perlu diketahui, saraf mata berfungsi meneruskan bayangan yang dilihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu benda (vision).

Pada penderita glaukoma, yang terjadi adalah kerusakan serabut syaraf mata sehingga tercipta blind spot (daerah tidak melihat/titik buta) para kornea.

Jenis glaukoma

  • Glaukoma primer , Gangguan mata yang tak bisa dihindari karena merupakan kondisi bawaan atau keturunan. Jenis glaukoma ini akan merusak tajam penglihatan secara perlahan tanpa rasa sakit, sehingga penderita tidak menyadari terjadinya kebutaan. 
  • Glaukoma primer sudut tertutup, Sudut bilik mata depan tertutup secara mendadak sehingga menghambat aliran cairan bola mata yang pada akhirnya menimbulkan tekanan pada bola mata. Akibatnya, tekanan TIO mendadak naik sehingga menyebabkan berbagai gejala klinis, seperti daya penglihatan menurun, tampak pelangi bila melihat lampu, sakit kepala, rasa mual disertai muntah. Bila glaukoma ini tidak segera diobati akan menyebabkan kebutaan. Glaukoma jenis inilah yang banyak terjadi di Indonesia.
  • Glaukoma sekunder, Terjadi karena sudut bilik mata depan rusak akibat faktor eksternal, seperti kecelakaan/trauma, obat-obatan tertentu (steroid), tumor, reaksi peradangan dan pembuluh darah yang tak normal.
  • Glaukoma konginetal, Glaukoma jenis ini sebenarnya jarang terjadi. Pasalnya penderita glaukoma kongenital terjadi sejak lahir. Sudut bilik mata depan terbentuk secara tidak normal sejak lahir. Kelainan glaukoma kongenital biasanya ditandai bola mata yang lebih besar dari normal, mata terlihat tidak jernih (kornea mata), keluar air mata bila melihat cahaya.

Faktor-faktor risiko pemicu glaukoma:

  • Umur, Pertambahan usia meningkatkan risiko terkena glaukoma.
  • Riwayat anggota keluarga yang terkena glaucoma, Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai risiko 6 kali lebih besar mengalami glaukoma. Risiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.
  • Obat-obatan, Pemakai steroid secara rutin misalnya: Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asthma, obat steroid untuk radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya. Bila anda mengetahui bahwa anda pemakai obat-abatan steroid secara rutin, sangat dianjurkan memeriksakan diri anda ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian glaucoma
  • Penderita rabun jauh (mata minus) dan rabun dekat (mata plus) yang tinggi.
  • Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata.
  • Penyakit lain, Riwayat penyakit diabetes (kencing manis), hipertensi dan migren.
  • Tekanan bola mata, Tekanan bola mata diatas 21 mmHg berisiko tinggi terkena glaucoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah sakit mata dan/atau dokter spesialis mata.

Pencegahan dan Pengobatan  

Pemeriksaan mata oleh dokter spesialis untuk mendeteksi glaukoma secara dini. Pemeriksaan mata yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan intraocular (dengan tonometer), pemeriksaan keadaan sudut bola mata dengan genioskopi. Sedangkan pemeriksaan lapang pandangan mata dengan alat perimetri. Ada pun pengecekan terhadap kondisi syaraf mata digunakan alat Heidelberg Retinal Tomography (HRT) atau Optical Coherence Tomography (OCT).

Pemberian obat tetes mata yang dilanjutkan pemberian obat tablet. Fungsi obat-obatan tersebut untuk menurunkan produksi atau meningkatkan keluarnya cairan akuos humor. Cara ini diharapkan dapat menurunkan tekanan bagi bola mata sehingga dicapai tekanan yang diinginkan. Agar efektif pemberian obat dilakukan secara terus menerus dan teratur.

Pemasangan keran Ahmed Valve. Untuk mengatasi glaukoma yang kondisinya relatif parah, dokter akan memasang keran buatan yang populer disebut ahmed valve. Nama ini berasal dari nama penemunya, yakni Ahmed, warga Amerika Serikat (AS) asal Timur Tengah yang pertama kali menciptakan klep tersebut sekitar 10 tahun silam. Alat ini terbuat dari bahan polymethyl methacrylate (PMMA), yakni bahan dasar lensa tanam. Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan yang tersumbat bisa keluar, sehingga tekanan bola mata otomatis akan turun. Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18 mmHg.

No comments:

Post a Comment